Namaku
Marta. Aku akan menceritakan
pengalamanku.
Saat itu aku
telah lulus sekolah dasar, aku bingung akan melanjutkan sekolah dimana. Nenek
dan kakekku mengarahkanku untuk bersekolah di SMP yang maju, begitupun juga
dengan guruku mengarahkan seperti itu. Tapi ibuku mengarahkanku untuk
bersekolah di pesantren. Aku bingung
memikirkan hal itu. Dan pada akhirnya aku memutuskan untuk memilih bersekolah
di pesantren “syalsaf sukorejo”.
Pertama kali
aku mendaftarkan diri di pesantren aku merasakan ketidak enakan hati, Aku
sendiri tidak tau mengapa. Saat hari pertama di pesantren aku kesepian, sedih
karena tidak biasa jauh dari orang tua.
Dengan
senang hati aku mengikuti kegiatan setiap harinya di pesantren.
Santri harus
bangun sangat pagi untuk mengikuti sholat berjama’ah di mushollah, setelah itu
kembali ke kamar untuk kegiatan mengaji bersama. Habis itu mandi, itupun masih
harus ngantri. Siap-siap berangkat sekolah jam 07.00. Aku baru bisa makan
setelah pulang sekolah jam 10.00. Habis itu santri harus siap-siap untuk sholat
duhur di mushollah. Jam 13.00 harus kembali lagi ke pusat untuk sekolah sorenya(SMP).
Untuk asarnya aku dan santri lainnya sholat di mushollah pusat. Hingga jam
17.00 santri baru pulang dan kembali ke asrama. Aku selalu mengeluh karena merasa kecapean,
wajar.. jarak dari asrama ke sekolah(pusat) lumayan jauh. Aku harus bolak balik
dari asrama ke sekolah, karena dalam satu hari aku bersekolah dua kali, yaitu
paginya MI dan sorenya SMP. Setelah sampai di asrama aku dan santri lainnya
mandi untuk siap-siap melaksanakan sholat berjama’ah maghrib di mushollah.
Selesai sholat maghrib, para santri kembal ke kamar untuk mengikuti kegiatan
mengaji bersama. Sampai adzan isya’ terdengar, kami harus kembali lagi ke
mushollah untuk berjama’ah sholat isya’. Setelah sholat isya’ adalah waktunya
kami para santri untuk belajar, hingga jam 21.00 jam belajar telah selesai. Itu
pun kami masih belum bisa tidur, karena masih harus nunggu bel berbunyi .
Besoknya harus seperti itu lagi…
Aku sangat
lelah setiap harinya harus mengikuti kegiatan pesantren yang tidak ada
kesempatan untuk beristiraahat, disana aku sering sakit, karena terlalu banyaknya
kegiatan yang harus dijalani. Aku juga sering menangis apabila ingat orang
tuaku. Hanya satu kali saja dalam
seminggu orang tuaku menjenguk aku di pesantren, yaitu hari jum’at, karena hari
jum’at santri libur sekolah. Setiap orang tuaku mau pulang, pasti aku menangis,
karena masih ingin lama-lama bersama mereka. Tapi aku masih bisa telfon orang
tuaku di wartel jika aku kangen.
Hari demi
hari ku lalui, aku sudah merasa tidak kerasan lagi di pesantren, karena factor jauh
dari orang tua, dan juga karena temanku yang selalu memusuhiku. Aku gak ngerti
kenapa temanku yang satu itu memusuhiku.
Hingga
akhirnya aku pindah asrama. Aku masih saja tidak kerasan di asramaku yang baru,
mungkin karena suasana disana yang sangat sepi. Aku hanya dua hari saja di
asrrama itu, dan pada akhirnya aku pindah asrama lagi untuk yang kedua kalinya.
Di asramaku yang ini aku lebih tenang karena aku satu kamar dengan sahabatku,
dan jarak dari asrama ini ke sekolah tidak begitu jauh. Sahabatku sangat baik
kepadaku, dia merawatku disaat aku sakit disana, aku merasa terharu melihatnya,
dia yang selalu menemaniku disaat aku bersedih, dia terlihat begitu sangat
mandiri. Setelah sehari semalam aku disana, lalu aku dibawa pulang oleh nenek
karena aku sakit. Hingga pada akhirnya aku diberhentikan oleh orang tuaku,
mungkin karena mereka gak tega aku di pesantren nangis terus tidak kerasan dan
sering sakit.
Aku sangat
menyesal, aku sudah mengecewakan orang tuaku.
Setelah
berhenti mondok, orang tuaku mendaftarkanku di sekolah luaran. Hingga saatnya
aku harus bersekolah untuk yang pertama kalinya, aku gak mau. Setelah sudah 3
hari aku baru mau sekolah. Hanya satu hari saja aku bersekolah di sekolahan
itu, dan tidak mau lagi sekolah disana.
Aku sudah
mengecewakan orang tuaku lagi. Sudah banyak biaya yg mereka keluarkan untuk
sekolahku. Tapi bodohnya aku tidak memikirkan hal itu, aku tidak memikirkan perasaan
orang tuaku, aku telah menyakiti perasaan mereka.
Dan pada
akhirnya aku harus putus sekolah… Kejiwaanku mulai terganggu, Hatiku sangat
hancur saat itu, pedih rasanya harus menerima kenyataan. Sangat sedih rasanya
mendengar pembicaraan orang, pembicaraan yang negativ tentangku. Tiap malam aku sholat tahajud, di
keheningan malam aku berdo’a memuji kebesaran sang ilahi, meminta diberikan
petunjuk, meminta diberikan semangat untuk bersekolah kembali. Tapi aku tetap
saja tidak ada kemauan lagi untuk sekolah, aku sudah putus asa. Yang ada dipikiranku
hanyalah gimana masa depanku nanti apabila aku masih tetap seperti ini. Ya
Allah…
Hingga orang
tuaku membawaku ke dokter psikiater di RS.Soebandi Jember, untuk memekriksakan
kejiwaanku. Setelah tahun ajaran baru,
ibuku mendaftarkanku untuk bersekolah di SMP yang maju, yaitu SMPN 1 Asembagus.
Aku masih saja tidak mau sekolah saat itu. Hingga akhirnya orang tuaku
membawaku lagi untuk yang ke dua kalinya ke dokter spesialis psikiater di
RS.PTPN Jember Klinik. Selain diperiksa, disana aku juga diberi semangat oleh
dokternya untuk bersekolah. Hingga besoknya aku sudah mau bersekolah. Alhamdulillah
sudah sampai saat ini aku bersekolah di SMPN 1 Asembagus. Sekolahan yang sama
sekali tak pernah kupikirkan dan ku harapkan bahwa aku akan bersekolah disana.
Teriakasih
ya Allah, atas petunjukmu. Aku yang dulunya diberi cobaan yang begitu pahit,
cobaan yang begitu berat dalam hidup aku. Sungguh sangat menyakitkan rasanya. Sekarang
aku bersyukur atas segala kenikmatan
yang telah Allah berikan kepadaku saat
ini.
Pesanku: Teruslah bersabar menghadapi cobaan
yang Allah beri kedapa kita, karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang
sabar. Jangan mudah putus asa dan, jangan pernah merasa sendiri, karena masih
ada Allah yang mengerti perasaan kita. Teruslah berusaha, jangan tinggalkan
sholat, dan jangan lupa berdo’a kepada Allah. InsyaAllah pasti ada jalan
keluarnya.
“Berjuang sebaik-baiknya dalam setiap
kesempatan adalah wujud rasa syukur dan terima kasihku kepada Tuhan. Keberhasilan
adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke gagalan
berikutnya tanpa harus kehilangan semangat.”


