Kamis, 03 Juli 2014

Pengalamanku


Namaku Marta.  Aku akan menceritakan pengalamanku.

Saat itu aku telah lulus sekolah dasar, aku bingung akan melanjutkan sekolah dimana. Nenek dan kakekku mengarahkanku untuk bersekolah di SMP yang maju, begitupun juga dengan guruku mengarahkan seperti itu. Tapi ibuku mengarahkanku untuk bersekolah di pesantren.  Aku bingung memikirkan hal itu. Dan pada akhirnya aku memutuskan untuk memilih bersekolah di pesantren “syalsaf sukorejo”.

Pertama kali aku mendaftarkan diri di pesantren aku merasakan ketidak enakan hati, Aku sendiri tidak tau mengapa. Saat hari pertama di pesantren aku kesepian, sedih karena tidak biasa jauh dari orang tua.

Dengan senang hati aku mengikuti kegiatan setiap harinya di pesantren.
Santri harus bangun sangat pagi untuk mengikuti sholat berjama’ah di mushollah, setelah itu kembali ke kamar untuk kegiatan mengaji bersama. Habis itu mandi, itupun masih harus ngantri. Siap-siap berangkat sekolah jam 07.00. Aku baru bisa makan setelah pulang sekolah jam 10.00. Habis itu santri harus siap-siap untuk sholat duhur di mushollah. Jam 13.00 harus kembali lagi ke pusat untuk sekolah sorenya(SMP). Untuk asarnya aku dan santri lainnya sholat di mushollah pusat. Hingga jam 17.00 santri baru pulang dan kembali ke asrama.  Aku selalu mengeluh karena merasa kecapean, wajar.. jarak dari asrama ke sekolah(pusat) lumayan jauh. Aku harus bolak balik dari asrama ke sekolah, karena dalam satu hari aku bersekolah dua kali, yaitu paginya MI dan sorenya SMP. Setelah sampai di asrama aku dan santri lainnya mandi untuk siap-siap melaksanakan sholat berjama’ah maghrib di mushollah. Selesai sholat maghrib, para santri kembal ke kamar untuk mengikuti kegiatan mengaji bersama. Sampai adzan isya’ terdengar, kami harus kembali lagi ke mushollah untuk berjama’ah sholat isya’. Setelah sholat isya’ adalah waktunya kami para santri untuk belajar, hingga jam 21.00 jam belajar telah selesai. Itu pun kami masih belum bisa tidur, karena masih harus nunggu bel berbunyi . Besoknya harus seperti itu lagi…

Aku sangat lelah setiap harinya harus mengikuti kegiatan pesantren yang tidak ada kesempatan untuk beristiraahat, disana  aku sering sakit, karena terlalu banyaknya kegiatan yang harus dijalani. Aku juga sering menangis apabila ingat orang tuaku.  Hanya satu kali saja dalam seminggu orang tuaku menjenguk aku di pesantren, yaitu hari jum’at, karena hari jum’at santri libur sekolah. Setiap orang tuaku mau pulang, pasti aku menangis, karena masih ingin lama-lama bersama mereka. Tapi aku masih bisa telfon orang tuaku di wartel  jika aku kangen.

Hari demi hari ku lalui, aku sudah merasa tidak kerasan lagi di pesantren, karena factor jauh dari orang tua, dan juga karena temanku yang selalu memusuhiku. Aku gak ngerti kenapa temanku yang satu itu memusuhiku.

Hingga akhirnya aku pindah asrama. Aku masih saja tidak kerasan di asramaku yang baru, mungkin karena suasana disana yang sangat sepi. Aku hanya dua hari saja di asrrama itu, dan pada akhirnya aku pindah asrama lagi untuk yang kedua kalinya. Di asramaku yang ini aku lebih tenang karena aku satu kamar dengan sahabatku, dan jarak dari asrama ini ke sekolah tidak begitu jauh. Sahabatku sangat baik kepadaku, dia merawatku disaat aku sakit disana, aku merasa terharu melihatnya, dia yang selalu menemaniku disaat aku bersedih, dia terlihat begitu sangat mandiri. Setelah sehari semalam aku disana, lalu aku dibawa pulang oleh nenek karena aku sakit. Hingga pada akhirnya aku diberhentikan oleh orang tuaku, mungkin karena mereka gak tega aku di pesantren nangis terus tidak kerasan dan sering sakit.

Aku sangat menyesal, aku sudah mengecewakan orang tuaku.
Setelah berhenti mondok, orang tuaku mendaftarkanku di sekolah luaran. Hingga saatnya aku harus bersekolah untuk yang pertama kalinya, aku gak mau. Setelah sudah 3 hari aku baru mau sekolah. Hanya satu hari saja aku bersekolah di sekolahan itu, dan tidak mau lagi sekolah disana.

Aku sudah mengecewakan orang tuaku lagi. Sudah banyak biaya yg mereka keluarkan untuk sekolahku. Tapi bodohnya aku tidak memikirkan hal itu, aku tidak memikirkan perasaan orang tuaku, aku telah menyakiti perasaan mereka.

Dan pada akhirnya aku harus putus sekolah… Kejiwaanku mulai terganggu, Hatiku sangat hancur saat itu, pedih rasanya harus menerima kenyataan. Sangat sedih rasanya mendengar pembicaraan orang, pembicaraan yang negativ  tentangku. Tiap malam aku sholat tahajud, di keheningan malam aku berdo’a memuji kebesaran sang ilahi, meminta diberikan petunjuk, meminta diberikan semangat untuk bersekolah kembali. Tapi aku tetap saja tidak ada kemauan lagi untuk sekolah, aku sudah putus asa. Yang ada dipikiranku hanyalah gimana masa depanku nanti apabila aku masih tetap seperti ini. Ya Allah…

Hingga orang tuaku membawaku ke dokter psikiater di RS.Soebandi Jember, untuk memekriksakan kejiwaanku.  Setelah tahun ajaran baru, ibuku mendaftarkanku untuk bersekolah di SMP yang maju, yaitu SMPN 1 Asembagus. Aku masih saja tidak mau sekolah saat itu. Hingga akhirnya orang tuaku membawaku lagi untuk yang ke dua kalinya ke dokter spesialis psikiater di RS.PTPN Jember Klinik. Selain diperiksa, disana aku juga diberi semangat oleh dokternya untuk bersekolah. Hingga besoknya aku sudah mau bersekolah. Alhamdulillah sudah sampai saat ini aku bersekolah di SMPN 1 Asembagus. Sekolahan yang sama sekali tak pernah kupikirkan dan ku harapkan bahwa aku akan bersekolah disana.

Teriakasih ya Allah, atas petunjukmu. Aku yang dulunya diberi cobaan yang begitu pahit, cobaan yang begitu berat dalam hidup aku. Sungguh sangat menyakitkan rasanya. Sekarang aku bersyukur  atas segala kenikmatan yang telah  Allah berikan kepadaku saat ini.

Pesanku:  Teruslah bersabar menghadapi cobaan yang Allah beri kedapa kita, karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Jangan mudah putus asa dan, jangan pernah merasa sendiri, karena masih ada Allah yang mengerti perasaan kita. Teruslah berusaha, jangan tinggalkan sholat, dan jangan lupa berdo’a kepada Allah. InsyaAllah pasti ada jalan keluarnya.

 “Berjuang sebaik-baiknya dalam setiap kesempatan adalah wujud rasa syukur dan terima kasihku kepada Tuhan. Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke gagalan berikutnya tanpa harus kehilangan semangat.”